SLEMAN(ilovepss): Kesulitan di tubuh Skuad Elang Jawa membawa keprihatinan bagi para pendukungnya. Terutama pendukung yang tergabung dalam wadah Slemania Cyber yang dikelola pendukung setia PSS Sleman. “PSS aadalah klub yang kami banggakan, dalam pertandingan kemarin sebenarnya kita mencoba untuk memberikan masukan atas wacana mundurnya PSS dari kompetisi karena masalah keuangan,” jelas Paulinus S, salah satu Komunitas Slemania Cyber.
Menurutnya selama ini manajemen belum kreatif dalam mengelola Skuad Elang Jawa. Padahal banyak yang bisa dikelola untuk memajukan PSS Sleman dari segi finansial, yang saat ini membelit tubuh Laskar Sembada akibat seretnya dana klub karena tidak disupport oleh APBD.
Komunitas Slemania Cyber meminta Skuad Elang Jawa dapat lepas dari APBD, namun mereka juga menyadari semua itu butuh waktu. Oleh sebab itu, manajemen harus bersikap realistis dan kreatif dalam mencari sumber dana.
Menurut mereka, dengan kesulitan yang harus dilalui, Laskar Sembada dan manajemen memang berusaha untuk tetap hidup di dua kompetisi [Divisi Utama dan Copa Indonesia] menjadi semakin sulit di benturkan dengan kesulitan mendapatkan sponsor dikarenakan tidak adanya daya jual tim yang tergabung Divisi nomor 2 di negara ini.
Belum adanya selera untuk berbisnis dalam manajemen tim-tim seperti PSS dan kondisi sepakbola Indonesia yang memang tidak bisa menjual tim-tim peserta liga. Pendapatan yang berasal dari bantuan dari Pemda Sleman dan bantuan dari pengusaha lokal, tidak bisa mencukupi jalannya roda Klub yang operasionalnya sangat besar. Apalagi pemasukan dari penjualan tiket kurang menutup pos-pos yang sangat penting.
Selain itu, lanjut Paul, kurang pedulinya suporter terhadap tim kesayangan mereka. Padahal suporter adalah aset bagi klu. Mencontoh dari klub-klub besar Eropa, ketika dirundung kerugian yang mengharuskan mereka melakukan langkah-langkah yang kurang populer, seperti Bayern Munchen, Napoli, AS Roma bahkan Manchester United.
“Seharusnya Slemania mempunyai langkah yang dibilang strategis untuk membantu klubnya, yang bisa dikatakan sebagai identitas dan harga diri mereka,” ujarnya.
(www.harianjogja.com)
Labels: From Newspaper, The Cyber in Action