November 20, 2008
SLEMAN: Ambisi PSS Sleman meraih kemenangan saat menjamu Persekabpas Pasuruan urung kesampaian. Tampil dihadapan pendukungnya sendiri yang memadati Stadion Maguwoharjo, kemarin, PSS harus puas dengan hasil imbang 1-1. Dalam pertandingan, Persekabpas bahkan mampu unggul terlebih dahulu berkat heading Ferry Liga S. Pemain bernomor punggung 11 ini mendapat umpan dari hasil tendangan bebas pemain asingnya Francisco Rotuno ketika pertandingan memasuki menit ke-13.
Untungnya, gelandang lincah PSS, Slamet Nurcahyo mampu menyamakan kedudukan ketika pertandingan memasuki menit ke-24. Slamet yang bernomor punggung 11 ini melakukan aksi individu dengan melewati sejumlah pemain bertahan Laskar Sakera. Aksi ini diakhiri dengan tendangan yang tidak mampu dijangkau kiper Persekabpas, Ari Kurniawan.
Di babak pertama ini, wasit Puji Suharsoyo mengeluarkan empat kartu kuning, tiga diantaranya untuk pemain persekabpas dan satu kartu kuning untuk pemain asing PSS Sleman, Ricardo Diaz.
Di babak kedua, sempat terjadi ketegangan antarpemain kedua kesebelasan. Untungnya, wasit mampu meredam emosi pemain kedua tim sehingga pertandingan bisa dilanjutkan. Hanya saja, akibat kerusuhan kecil ini, penonton sudah mulai melemparkan air minum kemasan ke lapangan.
Walau mendapatkan sejumlah peluang, PSS dan Persekabpas tetap tidak mampu membuat gol tambahan. Akibatnya, hingga wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, kedua tim harus puas dengan hasil imbang 1-1.
Kegagalan meraih tiga poin ini sangat disesalkan Pelatih PSS, Yudi Suryata. “Kami menyayangkan pertandingan home yang tidak bisa dimenangi ini dan merasa rugi besar dengan hasil yang diperoleh,” jelasnya.
Menurutnya, Persekabpas bisa mencetak gol karena kesalahan pemain belakang Elang Jawa. Diakuinya, ada kekurangan di lini belakang. Akibatnya, Peter Lipede yang masih cedera terpaksa dimainkan walau akhirnya ditarik kembali di babak kedua.
Sedangkan manajer PSS Sleman, Bambang Nurdjoko mengatakan hasil pertandingan tidak memuaskan. Dan menurutnya ada beberapa yang perlu diperbaiki yakni finishing pemain masih kurang, kurang sabar dalam pengeksekusian bola dan pergerakan pemain kurang.
Nada puas meluncur dari kubu Persekabpas. “Hasil akhir ini dikarenakan anak-anak disiplin sesuai dengan instruksi pelatih,” jelas Abu Bakar Assegaf, manajer Persekabpas, kemarin. Selain itu ia juga menjelaskan bahwa dukungan dari masyarakat dan Bupati Pasuruan dapat memotivasi pemain.
Selain itu menueutnya bupati Pasuruan yang baru gila bola sehingga dapat memotivasi pemain. Dan menurutnya 70% pemain yang ada di Persekabpas tersebut adalah asli putra daerah Pasuruan.
Labels: From Newspaper