(ilovepss); Dunia olahraga seperti mengharuskan para pelakunya menerapkan pola hidup sehat. Mereka "diwajibkan" menjauhi segala hal yang dapat merusak kesehatan. Rokok, misalnya. Tapi, bagi Yudi Suryata, rokok justru menjadi "jamu" bagi kehidupannya.
Begitu banyak mantan pesohor lapangan hijau yang tak bergaya hidup sehat setelah gantung sepatu. Di Inggris, publik mengenal Paul Gascoigne sebagai mantan pesepak bola yang gemar mengonsumsi alkohol. Akibatnya, berbagai penyakit pun menggerogoti mantan punggawa Timnas Inggris tersebut.
Di belahan dunia lain, tepatnya Argentina, masyarakat akan mafhum dengan gaya Diego Armando Maradona. Legenda hidup sepak bola Argentina itu punya "mainan" yang membahayakan nyawanya, kokain.
Nah, tentu bukan untuk mencontoh kedua legenda itu jika Yudi Suryata juga bergaya hidup tak sehat. Sebab, pelatih PSS Sleman itu juga punya kebiasaan yang sedang diperjuangkan untuk dienyahkan dari masyarakat; rokok.
"Awalnya merokok ya dulu saat menjabat asisten pelatih di Niac Mitra. Tapi, waktu sebagai pemain, saya tidak pernah merokok," kata ayahanda Titan W. Suryata tersebut.
Hingga kini kebiasaan tersebut selalu dipertahankan mantan pemain Niac Mitra era 1978-1983 itu. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari, pria kelahiran 25 November 1954 itu sanggup menghabiskan tiga bungkus rokok! Setiap ada kesempatan, batang-batang tembakau itu selalu terselip di bibirnya.
Praktis, hanya saat melatihlah Yudi tidak pernah mengisap barang yang menjadi perusak jantung dan pernapasan tersebut. Jika tidak melatih, jangan harap bisa melihat bibir suami Safari Nurtiningsih itu lepas dari gulungan tembakau.
Bukan tanpa halangan bagi Yudi untuk menyalurkan kegemarannya tersebut. Istrinya selalu menasihati Yudi untuk berhenti sebagai "ahli hisap". Safari pernah mencak-mencak akibat kebiasaan buruknya itu. Keduanya sering beradu mulut perihal kebiasaan jelek tersebut.
Hasilnya? Yudi menang. Segala upaya yang dilakukan sang istri tidak membuahkan hasil. Nasihat-nasihat yang dituturkan Safari hanya masuk telinga kanan, tapi keluar telinga kiri. Pelatih asal Masaran, Sragen, tersebut bisa tetap menikmati nikmatnya asap rokok.
"Saya selalu bilang sama istri saya, apa dia mau membunuh saya dengan menyuruh berhenti merokok? Sebab, kalau saya tidak merokok, badan malah lemas. Seperti tidak ada tenaganya," jelas mantan arsitek Gelora Putra Delta (GPD, sekarang Delta Putra Sidoarjo /Deltras) tersebut.
Entah sugesti atau memang rokok menjadi sumber energinya, tenaga Yudi memang selalu berlipat-lipat usai menikmati rokok. Karena itu, sakunya tidak pernah kosong dari rokok.
Anehnya, tidak pernah ada masalah kesehatan yang dirasakan mantan pemain Yanita Utama di Liga Sepakbola Utama (Galatama) itu.
Rokok tidak berpengaruh negatif terhadap aktivitasnya. Rokok tak mengusik segala aktivitasnya. Bahkan, rokok sudah dianggapnya suplemen untuk melipatgandakan tenaganya.
"Saya juga tidak pernah ke dokter untuk check up tentang paru-paru atau jantung. Minum jamu untuk kesehatan juga tidak pernah. Saya merasa sehat walaupun tak pernah berhenti merokok. Kalau orang jawa bilang, nyepur," papar eks arsitek Persijap Jepara itu.
Yudi bukannya tidak tahu bahwa rokok dapat merusak kesehatan. Tapi, Yudi sudah kecanduan. Dia tidak bisa menghentikan kebiasaan buruknya itu. Ibaratnya, rokok sudah menjadi darahnya.
"Tapi, jangan ditiru. Saya tahu ini tidak baik. Saya ini contoh yang salah," ujar Yudi mencoba bijak.
(www.jawapos.co.id)
Labels: From Newspaper